Menonton Tayangan Televisi Tentang Tingkah Polah Orang Yang Korupsi


 
*Memberi Keteladanan*
Menonton tayangan televisi tentang tingkah polah orang yang korupsi, yang ditangkap, diadili atau juga yang kabur, rasanya hati menjadi geram. Korupsi memang bak penyakit yang sedang mewabah hebat di negeri ini. Korupsi nyaris dilakukan oleh semua orang, semua ras, golongan dan agama. Menerima sesuatu yang bukan miliknya, bukan haknya di hadapan Tuhan itu sudah korupsi. Hukum positif (hukum yang berlaku kini dan di sini) tentu punya dalil dan unsur-unsur tersendiri mengenai korupsi ini. Tetapi sudahlah, bicara soal hukum dunia apa lagi yang ada di Indonesia bisa bikin orang stress, selain amburadul juga berantakan.

Tetapi kita mempunyai hukum yang lebih tinggi, yang langsung ditulis oleh Tuhan sendiri melalui Nabi Musa, khususnya mengenai mengingini milik orang lain. Dalam Keluaran 20:17 tertulis, "Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya atau apapun juga yang dipunyai sesamamu".

Banyak orang bahkan mungkin juga kita sudah apatis mengenai masalah korupsi Ini, itu kan masalah penegak hukum. Kalau mereka saja tak mampu menyelesaikan, ngapain kita harus ikut repot, urusan kita sudah banyak, emang kita kurang kerjaan? Mungkin demikian pendapat anda, tetapi haruskah demikian?

Sebagai orang Kristen kita dipanggil bukan hanya untuk menerima berkat dan keselamatan. Tetapi juga harus membenci kejahatan. Benci dalam arti kata kita harus melakukan sesuatu. Korupsi adalah suatu tindak kejahatan. Benar kita bukan polisi, jaksa atau hakim. Apalagi kalau anda juga polisi, jaksa atau hakim yang mengaku pengikut Kristus.

MULAI DARI DIRI SENDIRI
Siapapun anda mulailah belajar bertindak jujur, berkata benar. Atau anda tidak merasakan apapun juga ketika anda menjawab telepon seseorang dan anda mengatakan "orang tersebut tidak ada" hanya karena anda tidak ingin berbicara dengan orang yang menelpon anda? Suatu kebohongan kecil yang 'tidak berdosa’kah yang sedang anda lakukan? Atau ada sesuatu yang mengusik nurani anda manakala anda sedang melakukan 'dosa kecil' itu ?

Seorang anak Sekolah Minggu yang di gereja diajar Guru Sekolah Minggunya agar tidak berbohong sekecil apapun akan menyanggah kata gurunya itu, "Tapi papa suka bohong, dan nggak apa-apa kok". Dosa besar biasanya diawali dengan dosa kecil. Kalau saja Alkitab membedakan dosa besar dan dosa kecil, sayang Alkitab menganggap dosa adalah dosa, sama saja.

Mayjen. Pol. (Purn.) U.E. Medellu yang saat ini berusia 85 tahun adalah seorang pejabat tinggi di Kepolisian RI yang berdinas di tempat yang basah, bahkan basah kuyup. Bayangkan dia pernah menjadi Kapolda Sumatera Utara. Dia juga pernah menjabat Direktur Lalu Lintas Mabes Polri. Ketika banyak polisi melakukan korupsi (di Media diberitakan salah satu lembaga terkorup di Indonesia adalah kepolisian) dan memperkaya diri, U.E,Medellu justru memberikan contoh yang benar. Semua asset kepolisian yang tercatat atas namanya yang sebenarnya aman-aman saja untuk ditilep, malah dikembalikan ke instansinya. Nilainya bukan hanya ratusan juta, tetapi milyaran rupiah.

Maka terengangalah banyak pejabat kepolisian melihat 'kejanggalan' yang dilakukan E.U. Medellu. Sebagian memuji kejujurannya (tanpa mau meniru), sebagian mencibir sok suci, atau menilai jendral yang satu ini gila. Rumah jendral ini yang terletak di mulut gang Jl. Otto Iskandar Dinata sangat sederhana, bagi ukuran seorang jenderal berbintang dua. Sementara saya pernah mengujungi 'kastil' seorang yuniornya dengan pangkat yang sama, garasinya lebih mewah dari rumah jenderal U.E. Medellu.

Dari hasil wawancara saya mengetahui memang kedua orang tuanya mengajarkan dan memberikan contoh keteladanan untuk mentaati Firman Tuhan dengan konsekuen, apapun resikonya. Miskinkah U.E.Medellu? Ternyata tidak, karena Tuhan punya cara untuk memberkati hidupnya tanpa harus korupsi dan melanggar hukum. Dia kaya, tetapi kekayaan rohaninya yang paling dibanggakannya (baca bukunya yang segera terbit, U.E. Medellu Pejuang dan Bibir Pasific)

Ibadah dan berdoa saja pasti tidak cukup. Menjadi sponsor KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) dan berbagai kegiatan Kristiani juga belum jadi ukuran. Tetapi marilah dari diri kita, kita mulai pemberantasan korupsi ini. Anak-anak kita jangan diberi makan dengan uang haram. Kalau anda pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur dan membayar pajak, tidak menyuap kiri kanan untuk mendapat proyek. Kalau anda pegawai negri, janganlah menerima komisi karena jabatan anda. Kala anda dan kalau anda apapun profesinya, hati-hati. Roh Mamon sedang melambai mesra ingin memeluk anda, tapi tangannya yang satu sedang menghancurkan negri yang kita cintai, dan anak cucu yang kita sayangi.

0 Response to "Menonton Tayangan Televisi Tentang Tingkah Polah Orang Yang Korupsi"

Posting Komentar

Putra Samay. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

My Blog List