Catatn Puisi-Hanya Satu Kata Lawan Penindasan






waktu terus meninabobokan kita dalam lena mimpi,
tanpa bisa menola,padam niat memberontak,
sebab kita hanya hiasan kumuh, tak pernah di gubris
sebab kerakusan,telah menanam cakarcakarnya di seluruh huma
mencakar keangkuhan langit,dengan keserakahannya

kita hanya menuai tangis,di ujung kisah kematian
tak ada lagi lahan resapan,maka jangan salahkan banjir
sebab bandangnya selalu terpetadalam bening mata anakcucumu
melumat setiap tangis,lalu bercerita lagi tentang kehilangan
terulang dan terus terulang, dalam desah nafas dan butiran keringat
yang menghancurkan hidupmu
tak ada waktu istirah
tanpa mimpi indah pada malammalammu

disini kita berdiri di bawah panji cemerlang
tanpa serdadu berwajah garang
wajahwajah lusu yang matang kemiskinan
juga luka kehilangan kepercayaan
telah menuntunmu sebagai pemimpin
agar bisa keluar dari masa kegelapan
menyemai semangat ampera
memberantas kelaliman dengan satu kata “LAWAN”

jangan biarkan mereka mengotori tanah kita
tempat kita menabur harap, menyemai nafkah
tempat arwah tetua kita memberi amanah
tempat selaksa belulang terkubur demi kemerdekaan
jangan lagi lahirkan malingkundang zaman
yang terbelah dari rahim keserakahanmu!

   By
   Gunting Arus​

Catatan Puisi-Di Negeriku


Penguasa Terdahulu :
saya harus memimpin lagi
kerna masih banyak program mulia saya yang belum sempat di tunai
dan pemerintah hari ini belum mampu menyaingi keberhasilanku

Penguasa Sekarang :
Kepemimpinanku jauh lebih maju daripada pemerintah yang dulu
Dan aku yakin semua masyarakat mencintaiku
Kernanyalah akan terus ku lanjutkan sampai aku mati


Nyang Belum Berkuasa :
Mereka semua pecundang perusak negeri
Negara kita jauh lebih bisa untuk maju tanpa keterpurukan
Kernanyalah aku harus mimpin

tapi ketika terpilih maka sejarah akan terulang lagi
kapan kita membuat sejarah baru???


By
Gunting Arus​

Menulis Tak Sekedar Menuangkan Kata Kata


Menulis, tak sekedar menuangkan kata-kata, namun terlahir dari pikir dan rasa yang senantiasa bekerja, terpengaruhi oleh apa yang terbaca. Membaca, bukan pula hanya kata-kata, melainkan penglihatan mata, pendengaran telinga, dan suara-suara rasa, menyatu dalam jiwa?


By
Gunting Arus​  

Catatan Puisi-Nyayian Papau





NYANYIAN PAPUA

Engkau yang disana 
Engkau yang kukagumi
Engkau yang kusanjung
Engkau yang kubangga

Kutersunggkur padamu
Kuberpaling dalam pencarian ini
Ku tak sudi engkau menghilang dari kekinian ini
Sungguh ku tak sudi

Bersama nyanyian Tifa
Bersama nyanyian burung Cendrawasih yang menghampiri
Bersama sapaan Alam Surga
Engkau menari dalam keberadaan anak negeri

Rasanya memang, negeri memanggil untuk kembali
Untuk merasakan negeri yang selalu menyapa dengan polos
Tuk mewarnai Alam tanah Papua
Dalam kebanggaan yang bertumpah ruah

Hanya untukmu negeriku
Hanya untukmu bumi cendrawasihku
Hanya untukmu Surga kecilku
Hanya untukmu tanah papuaku

Ku merana dinegeri ini
Ku berburu hanya untuk kehidupan
Ku berburu hanya untukmu kesatuan cinta
Diantara masalah dan misteri ini

Aku ada
Aku disini
Aku dijalan
Untuk menjadi pemenang Zaman

Ku tetap ingin, Bernyanyi bersama alunan Tifa
Tetap Bernyanyi bersama alunan Triton
Bernyanyi bersama alunan Pikon
Untuk mewarnai Negeri BERBUDAYA dan Negeri BERSEJARAH

Dikaulah negeriku
Aku bangga
Bergemalah negeriku
Bersama nyanyian Tanah Papua



By
Gunting Arus​
Putra Samay. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

My Blog List